Dari Togean ke Banggai Laut, Thomas Despin Siapkan Resor Berbasis Energi Surya di Pulau Asasal
BANGGAI LAUT, KRONIKSULTENG.ID
Pengembangan pariwisata berbasis energi terbarukan mulai dilirik di Kabupaten Banggai Laut. Thomas Despin, pengusaha di balik Reconnect Island Resort di Pulau Buka Buka, Kabupaten Tojo Una-Una, berencana mengembangkan resor baru di Pulau Asasal, Banggai Laut.
Rencana ekspansi tersebut disampaikan Thomas melalui akun Facebook pribadinya. Ia menyebut proyek baru itu akan membawa prinsip pengembangan yang selama ini diterapkan di Reconnect Togean, yakni berskala kecil, mengandalkan energi surya, dan berakar pada masyarakat setempat.
Dalam laman resmi proyek Reconnect Banggai, pengembangan tahap awal direncanakan dimulai dengan enam kamar. Resor tersebut akan menggunakan tenaga surya yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai serta melibatkan warga dari desa-desa sekitar.
Pembukaan ditargetkan pada akhir 2027. Namun, proyek tersebut masih berada pada tahap persiapan. Pengelola menyatakan pembangunan fisik belum dimulai dan jadwal pembukaan dapat berubah karena pekerjaan di pulau terpencil sangat bergantung pada kondisi cuaca dan logistik. Pulau Asasal sebelumnya dikenal sebagai lokasi Asasal Island Resort. Menurut laman proyek, kawasan yang sama kini dikembangkan dengan nama Reconnect Banggai oleh tim di balik Reconnect Togean.
Pengalaman Tujuh Tahun di Pulau Buka Buka
Pengembangan proyek di Banggai Laut tidak terlepas dari pengalaman Thomas membangun Reconnect di Pulau Buka Buka, Kabupaten Tojo Una-Una. Melalui unggahan Facebook-nya, Thomas menceritakan bahwa tujuh tahun lalu kawasan tersebut hanya berupa kebun kelapa, pantai yang sepi, dan beberapa pondok kayu. Saat itu belum tersedia jalan maupun jaringan air bersih.
Kini, Reconnect telah berkembang menjadi resor dengan 20 kamar. Sekitar 93 persen kebutuhan listriknya dipasok dari tenaga surya, sementara seluruh kebutuhan air tawar diproduksi sendiri melalui sistem desalinasi di pulau tersebut. Sistem kelistrikan dilengkapi baterai dengan generator sebagai sumber cadangan. Pengelola juga menyebut memiliki sekitar 30 tenaga kerja, hampir seluruhnya merupakan warga lokal dari wilayah Tojo Una-Una.
Perjalanan membangun usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Thomas mengungkapkan rencana awal pengembangan sempat gagal dan pandemi Covid-19 hampir membuat bisnisnya bangkrut. Dalam situasi sulit itu, ia bahkan menggunakan uang pribadi selama beberapa bulan untuk membayar gaji karyawan agar tidak ada satu pun anggota tim yang diberhentikan.
“Pandemi hampir membuat kami bangkrut, dan selama beberapa bulan saya membayar gaji tim dengan uang pribadi, supaya tidak ada satu pun yang diberhentikan,” tulis pria kelahiran Perancis yang sudah berkewarganegaraan Indonesia ini. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk membawa konsep serupa ke Banggai Laut.
Peluang Pariwisata Banggai Laut
Rencana investasi Reconnect Banggai hadir di tengah potensi pariwisata daerah yang terus berkembang. Data Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah yang dirilis pada Februari 2026 mencatat sebanyak 153.271 kunjungan ke Kabupaten Banggai Laut sepanjang 2025. Jumlah tersebut terdiri atas 151.710 kunjungan wisatawan nusantara dan 1.561 kunjungan wisatawan mancanegara.
Angka itu merupakan jumlah kunjungan, bukan jumlah wisatawan unik. Meski demikian, data tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas perjalanan wisata ke Banggai Laut. Sebagai wilayah kepulauan, Banggai Laut memiliki potensi wisata bahari, bentang alam pesisir, serta kekayaan ekosistem laut yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun, pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil juga memiliki tantangan, terutama menyangkut infrastruktur dasar, pengelolaan air bersih, sampah, limbah, transportasi, dan perlindungan ekosistem pesisir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menekankan bahwa pemanfaatan pulau-pulau kecil perlu memperhatikan daya dukung lingkungan, kelestarian ekosistem, akses masyarakat, serta kesesuaian dengan tata ruang.
Pesisir dan pulau-pulau kecil di wilayah Banggai, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, dan perairan sekitarnya juga telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 53 Tahun 2019. Meski demikian, belum dapat dipastikan posisi persis Pulau Asasal terhadap batas dan zonasi kawasan konservasi tersebut.
Artinya, rencana Thomas Despin membawa Reconnect ke Banggai Laut menjadi peluang sekaligus tantangan. Bukan sekadar menghadirkan destinasi wisata baru, tetapi juga membuktikan bahwa investasi pariwisata dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.(JONG)
